Satu fenomena
penting dimalam jumat kliwon. bersama rekan( yg tak kuanggap rekan) aku
menulusuri malam yg begitu pekat dimana ada intruksi dr camat bahwa akan ada
kumpulan berasama gus **** namun setelah diselidiki ternyata tak ada tanda2
bahwa akan ada kumpulan besar2an tak ada kawan dan lawan, tak satupun orang
berani menampakkan batang hidungnya. dg kondisi yg spt itu kudaku (pengkonsumsi
bensin) kupacu sampai ditanah lapang, ya lapangan warungpring. sampai disana
ternyata ramai, hiruk pikuk tunas kelapa berkeliaran diamana2, dipanggung,
lapangan sampai ada yg diatas gawang. ada pula dibahu jalan ala anak muda
sekarang, kuistirahatkan kudaku disamping mereka dan kuajak bersenang, tak lagi
memikirkan bagaimana tunas itu akan tumbuh, tp bagaimana menjaga tunas itu agar
selalu segar dan enak dipandang serta bisa dimanfaatkan masyarakat.
Malam semakin
larut, satu persatu laksana mohon pamit dr sarangnya. namun disitu ada
pergualatan maha dasyat antara kopi hitamku dg ao, yg semula baik hati kini
ditekan dan didorong agar menemani sang peminum, kusodorkan balik dg alasan
sudah tak kuat minum namun tetap saja mereka memaksa, nuraini ku berontak agar
tak mengikutinya. kuingat sebuah dawuh
bahwa "berteman itu tak usah milih2, sesekali bertemanlah dg mereka (yg
dipinggirkan agamawan), konsep luar biasa yg dalam islam disebut Hablu minan
nas. ketika itu jam menunjukan pukul 3:12 am, kuambil peralatanku dan kupacu
kudaku kejalan raya. tak bermaksud mengecewakan apalagi tak mempeedulikan,
justru aku menghargai semangat dalam menafkahi anak istri dan semangat
menghidupi diri. Apresiasi jg karena telah mau berkenalan, masih mau berjabat
tangan dan masih mau berbagi walaupu bukan porsiku.
Kuakhiri malamku
dicamp panitia setelah 'nanggap' ahsin dan saudaranya, sampai ada satu anggota
yang tak kuat lagi terbahak hingga pingsan inisiale lulu. Kulenggangkan kaki
untuk menuju rumahNya. sorenya ketika ashar tiba ada sedikit tarikan dari om
ku, eh pak lurah karangdawa tp enak nyapa om sajalah. pergolakan dasyat kembali
menyeruak antariska akal, dia seakan tau bagaimana rasanya jadi anak muda yg
masih suka harta, tahta dan wanita. yg masih suka kopi hingga subuh tiba. dan
yg masih suka memikirkan 'masa depannya' ketimbang keluarga dan
sahabat-sahabatnya. Aku termenung mendengarkan mantan mas gondrong ini bicara
ngalor ngidul namun berat materinya, yang
lain ikut bengong menyaksikan kejadian-kejadian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar