Selasa, 15 September 2015

Tunas muda atau rambutan muda?



Satu fenomena penting dimalam jumat kliwon. bersama rekan( yg tak kuanggap rekan) aku menulusuri malam yg begitu pekat dimana ada intruksi dr camat bahwa akan ada kumpulan berasama gus **** namun setelah diselidiki ternyata tak ada tanda2 bahwa akan ada kumpulan besar2an tak ada kawan dan lawan, tak satupun orang berani menampakkan batang hidungnya. dg kondisi yg spt itu kudaku (pengkonsumsi bensin) kupacu sampai ditanah lapang, ya lapangan warungpring. sampai disana ternyata ramai, hiruk pikuk tunas kelapa berkeliaran diamana2, dipanggung, lapangan sampai ada yg diatas gawang. ada pula dibahu jalan ala anak muda sekarang, kuistirahatkan kudaku disamping mereka dan kuajak bersenang, tak lagi memikirkan bagaimana tunas itu akan tumbuh, tp bagaimana menjaga tunas itu agar selalu segar dan enak dipandang serta bisa dimanfaatkan masyarakat.
Malam semakin larut, satu persatu laksana mohon pamit dr sarangnya. namun disitu ada pergualatan maha dasyat antara kopi hitamku dg ao, yg semula baik hati kini ditekan dan didorong agar menemani sang peminum, kusodorkan balik dg alasan sudah tak kuat minum namun tetap saja mereka memaksa, nuraini ku berontak agar tak mengikutinya. kuingat  sebuah dawuh bahwa "berteman itu tak usah milih2, sesekali bertemanlah dg mereka (yg dipinggirkan agamawan), konsep luar biasa yg dalam islam disebut Hablu minan nas. ketika itu jam menunjukan pukul 3:12 am, kuambil peralatanku dan kupacu kudaku kejalan raya. tak bermaksud mengecewakan apalagi tak mempeedulikan, justru aku menghargai semangat dalam menafkahi anak istri dan semangat menghidupi diri. Apresiasi jg karena telah mau berkenalan, masih mau berjabat tangan dan masih mau berbagi walaupu bukan porsiku.
Kuakhiri malamku dicamp panitia setelah 'nanggap' ahsin dan saudaranya, sampai ada satu anggota yang tak kuat lagi terbahak hingga pingsan inisiale lulu. Kulenggangkan kaki untuk menuju rumahNya. sorenya ketika ashar tiba ada sedikit tarikan dari om ku, eh pak lurah karangdawa tp enak nyapa om sajalah. pergolakan dasyat kembali menyeruak antariska akal, dia seakan tau bagaimana rasanya jadi anak muda yg masih suka harta, tahta dan wanita. yg masih suka kopi hingga subuh tiba. dan yg masih suka memikirkan 'masa depannya' ketimbang keluarga dan sahabat-sahabatnya. Aku termenung mendengarkan mantan mas gondrong ini bicara ngalor ngidul  namun berat materinya, yang lain ikut bengong menyaksikan kejadian-kejadian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar